seorang budayawan, arsitektur, sastrawan.
terima kasih yb mangunwijaya telah mengajarkan saya banyak hal
melalui tulisan, pandangan hidup, filosofi hidup
indahnya hidup dalam keragaman.
Sabtu, 25 Oktober 2008
garamnya terlalu asin....
jadilah garam dan terang dunia.
apa jadinya kalau makanan terlalu banyak garam?
asin dan pasti ga bisa dimakan
apa jadinya kalau makanan tanpa garam?
hambar,,,,
supaya tepat berarti garam harus dalam porsi yang tepat.
garam harus bisa menyatu dengan makanan.
kalau garam hanya berkumpul dengan garam maka ga ada artinya,,,
apa jadinya kalau makanan terlalu banyak garam?
asin dan pasti ga bisa dimakan
apa jadinya kalau makanan tanpa garam?
hambar,,,,
supaya tepat berarti garam harus dalam porsi yang tepat.
garam harus bisa menyatu dengan makanan.
kalau garam hanya berkumpul dengan garam maka ga ada artinya,,,
life's short
waktu membuat saya berdecak kagum akan kehebatan yang namanya waktu dan romantika masa lalu yang akhirnya menjadi sebuah kenangan yang bisa saya hayati dengan senyuman.
ngomong ngomong masa lalu ga ada habisnya
kalau bicara masa kini saya hanya bisa tersenyum dan terkadang merenung akan masa depan
ya gitulah umur segini adalah umur peralihan deh kayanya
peralihan dimana seorang laki harus siap untuk menjadi lelaki sejati "man"
saat dimana saya harus mulai berpikir keras, dewasa, mencari sesuap nasi, dsb
masih banyak pertanyaan yang belum terjawab,,,,,
masih banyak tantangan yang belum terselesaikan
masih banyak
masih banyak
hanya Tuhan yang tahu dan akan menjawabnya
dan biarkan waktu memperlihatkan semuanya.
ngomong ngomong masa lalu ga ada habisnya
kalau bicara masa kini saya hanya bisa tersenyum dan terkadang merenung akan masa depan
ya gitulah umur segini adalah umur peralihan deh kayanya
peralihan dimana seorang laki harus siap untuk menjadi lelaki sejati "man"
saat dimana saya harus mulai berpikir keras, dewasa, mencari sesuap nasi, dsb
masih banyak pertanyaan yang belum terjawab,,,,,
masih banyak tantangan yang belum terselesaikan
masih banyak
masih banyak
hanya Tuhan yang tahu dan akan menjawabnya
dan biarkan waktu memperlihatkan semuanya.
Jumat, 10 Oktober 2008
Journey of life
jalan hidup seseorang ga ada yang tau, apa yang akan terjadi besok, apakah itu baik dan buruk...(maaf sok puitis)
pada saat menulis ini saya baru pulang dari praktek, ya beginilah aktivitas saya sehari hari pagi jam 6.30 kalau ga ke rumah sakit ya di kampus, pulang dari kampus kalau ada pasien ngamar di rsud dr soetomo saya bersama ppdgs bedah mulut dan maxillofacial lainnya visite sampai kira kira jam 6.
setelah kegiatan tersebut saya langsung praktek sampai jam 9 lah kira kira.
malamnya masih harus ngerjain tugas dan belajar. hehehe
dan hal ini pasti terjadi senin sampai sabtu. libur cuma minggu.
residen bedah mulut ga ada waktu liburnya, jadi iri ama anak anak s1, libur kalau ada tanggal merah aja, itupun masih dibebani ama jadwal jaga (ga dibebani sih maksudnya diberi tanggung jawab)
ya begitulah kehidupan residen bedah, ga ada liburnya, kurang tidur jadinya tidur bisa dimana aja kapan aja.
pendidikan spesialis bedah mulut dan maxillofacial yang saya jalani ini cukup membuat adrenalin saya naik turun tapi banyak naiknya, melihat sejarah berdirinya bedah mulut di surabaya dan ditempat lain maka bisa disimpulkan bahwa bedah mulut dan maxillofacial merupakan suatu pendidikan spesialis yang menuntut pengetahuan kedokteran dan kedokteran gigi yang berimbang.
residen kali ini membuat saya kembali merasa berada di s1 karena teman teman saya ya hampir sama ada kak reza, kak anita, kak indra, kak fredy, kak icha kita semua adalah angkatan 2002 fkg.
jadi masuk bedah mulut dan maxillofacial bagaikan sebuah reuni..
pendidikan yang saya jalani sangat menjunjung arti senioritas,
saya sih sangat setuju sistem senioritas di bedah mulut, cuma
ya diharapkak kakak kelas bisa bijaksana dan tidak menggunakan senioritasnya untuk hal hal yang kurang perlu (bukan berarti kakak kelas saya seperti itu loh)
maksudnya ya semoga aja bisa lebih baik dan mempunya sifat senior : rendah hati, tidak sombong, bisa mengayomi, bisa memberi contoh.
jujur aja saya sendiri kewalahan buat belajar materi kedokteran yang lebih berat daripada materi kedokteran gigi, ini bukan berarti kedokteran gigi ga berat loh
kedokteran gigi sangat berat di kerja kliniknya,,
bedah mulut merupakan sebuah pendidikan yang menuntu kesadaran tinggi pada setiap residennya untuk belajar dan berjuang demi nama baik bedah mulut dan kedokteran gigi di mata saudara tua kedokteran
kalau kita ga tau apa apa maka nanti bisa dicap wajar dokter gigi ga terlalu nguasai. saya pribadi tidak ingin anak kedokteran gigi dipandang remeh ataupun minder dengan kakak tua kita. jadi mari kita berbuat yang terbaik demi nama baik almamater kita.
dari pengalaman saya mengikuti kuliah dengan saudara tua kita, bahwa masalah otak sebenarnya sama aja, cuma bedanya di semangat juang,
kita mahasiswa kedokteran gigi kurang mempunyai semangat untuk belajar dan berjuang.
hehehe maaf ya...
kembali ke aktivitas saya
melihat adek kelas s1 yang sedang menjalani klinik bedah mulut, salut buat yang baru masuk buat semangat yang tinggi (semoga ini bisa dipertahankan) dan sedikit kasian karena requirement untuk odontektomi dihapuskan, jangan sedih ya.
bedah mulut emang sangat menyenangkan, sampai detik ini saya merasa setiap hari ada hal baru yang saya baru tau, dan melihat ilmunya yang begitu luas membuat saya terpacu untuk belajar lebih banyak dan ga bikin bosan karena selalu ada yang baru.
coba pikir baik baik klinik mana yang dosennya paling baik hati?
interaksi dokter dan pasien yang banyak, kalau ga ada bedah mulut mungkin kita kurang bisa ngomong ama pasien terutama pasien yang maunya sendiri dan sok tau atau pasien yang sangat takut, pasien yang ga jelas maunya apa semuanya ada di bedah mulut.
saya pribadi sangat mengidolai dosen dan kakak kelas saya karena oleh perjuangan mereka bedah mulut bisa eksis dan masih bisa menunjukkan taji dalam penganan kasus malignansi, fraktur, kista dan lain sebagainya.
terima kasih computerku karena engkau saya bisa membuat blog,,hehehe
pada saat menulis ini saya baru pulang dari praktek, ya beginilah aktivitas saya sehari hari pagi jam 6.30 kalau ga ke rumah sakit ya di kampus, pulang dari kampus kalau ada pasien ngamar di rsud dr soetomo saya bersama ppdgs bedah mulut dan maxillofacial lainnya visite sampai kira kira jam 6.
setelah kegiatan tersebut saya langsung praktek sampai jam 9 lah kira kira.
malamnya masih harus ngerjain tugas dan belajar. hehehe
dan hal ini pasti terjadi senin sampai sabtu. libur cuma minggu.
residen bedah mulut ga ada waktu liburnya, jadi iri ama anak anak s1, libur kalau ada tanggal merah aja, itupun masih dibebani ama jadwal jaga (ga dibebani sih maksudnya diberi tanggung jawab)
ya begitulah kehidupan residen bedah, ga ada liburnya, kurang tidur jadinya tidur bisa dimana aja kapan aja.
pendidikan spesialis bedah mulut dan maxillofacial yang saya jalani ini cukup membuat adrenalin saya naik turun tapi banyak naiknya, melihat sejarah berdirinya bedah mulut di surabaya dan ditempat lain maka bisa disimpulkan bahwa bedah mulut dan maxillofacial merupakan suatu pendidikan spesialis yang menuntut pengetahuan kedokteran dan kedokteran gigi yang berimbang.
residen kali ini membuat saya kembali merasa berada di s1 karena teman teman saya ya hampir sama ada kak reza, kak anita, kak indra, kak fredy, kak icha kita semua adalah angkatan 2002 fkg.
jadi masuk bedah mulut dan maxillofacial bagaikan sebuah reuni..
pendidikan yang saya jalani sangat menjunjung arti senioritas,
saya sih sangat setuju sistem senioritas di bedah mulut, cuma
ya diharapkak kakak kelas bisa bijaksana dan tidak menggunakan senioritasnya untuk hal hal yang kurang perlu (bukan berarti kakak kelas saya seperti itu loh)
maksudnya ya semoga aja bisa lebih baik dan mempunya sifat senior : rendah hati, tidak sombong, bisa mengayomi, bisa memberi contoh.
jujur aja saya sendiri kewalahan buat belajar materi kedokteran yang lebih berat daripada materi kedokteran gigi, ini bukan berarti kedokteran gigi ga berat loh
kedokteran gigi sangat berat di kerja kliniknya,,
bedah mulut merupakan sebuah pendidikan yang menuntu kesadaran tinggi pada setiap residennya untuk belajar dan berjuang demi nama baik bedah mulut dan kedokteran gigi di mata saudara tua kedokteran
kalau kita ga tau apa apa maka nanti bisa dicap wajar dokter gigi ga terlalu nguasai. saya pribadi tidak ingin anak kedokteran gigi dipandang remeh ataupun minder dengan kakak tua kita. jadi mari kita berbuat yang terbaik demi nama baik almamater kita.
dari pengalaman saya mengikuti kuliah dengan saudara tua kita, bahwa masalah otak sebenarnya sama aja, cuma bedanya di semangat juang,
kita mahasiswa kedokteran gigi kurang mempunyai semangat untuk belajar dan berjuang.
hehehe maaf ya...
kembali ke aktivitas saya
melihat adek kelas s1 yang sedang menjalani klinik bedah mulut, salut buat yang baru masuk buat semangat yang tinggi (semoga ini bisa dipertahankan) dan sedikit kasian karena requirement untuk odontektomi dihapuskan, jangan sedih ya.
bedah mulut emang sangat menyenangkan, sampai detik ini saya merasa setiap hari ada hal baru yang saya baru tau, dan melihat ilmunya yang begitu luas membuat saya terpacu untuk belajar lebih banyak dan ga bikin bosan karena selalu ada yang baru.
coba pikir baik baik klinik mana yang dosennya paling baik hati?
interaksi dokter dan pasien yang banyak, kalau ga ada bedah mulut mungkin kita kurang bisa ngomong ama pasien terutama pasien yang maunya sendiri dan sok tau atau pasien yang sangat takut, pasien yang ga jelas maunya apa semuanya ada di bedah mulut.
saya pribadi sangat mengidolai dosen dan kakak kelas saya karena oleh perjuangan mereka bedah mulut bisa eksis dan masih bisa menunjukkan taji dalam penganan kasus malignansi, fraktur, kista dan lain sebagainya.
terima kasih computerku karena engkau saya bisa membuat blog,,hehehe
Langganan:
Postingan (Atom)